Assalamualaikum Wr. Wb.
Halo halo halo. Tes tes tes. Maap nih, masih baru di kancah blogging *uhuk
uhuk*
"uhuk, uhuk" "minum dulu, pak.." "oh iya, makasih.
gimana sekolahmu, jang?" "ya gitu deh, biasa aja, pak. cuma tadi ada
ulangan mendadak gitu, jadi ujang panik terus ujang lempar gurunya pake bangku
ujang" "LAAHHH?" "iya, pak. untung aja ga kena, pak"
"KAMU LEMPAR BANGKU?!" "iya, pak. tapi ga kena kok, yang ngenain
gurunya si ucok, dia lempar pot bunga.."
*krik krik krik*
Oke, lanjut aja deh..
Hem. Kutipan cerita di atas sangat berkaitan erat dengan topik yang bakal
saya bahas kali ini.. Engga juga sih, itu cerita random ga jelas doang. Saya
mau bahas tentang ini:
CITA-CITA
Engga, bukan cita-cita yang kayak iklan
Cila-pengen-jadi-dokter-supaya-bisa-nyembuhin-temennya-yang-sakit.
Atau Cila-pengen-nguasain-dunia-muahahaha.
Atau Cila-pengen-punya-restoran-ayam
bakar-di-puncak-gunung-semeru. Kita ga bahas cita-cita yang seperti itu.
Ada ungkapan yang berbunyi kayak gini:
Impossible is nothing, just do it
- Maksudnya?
Ya begitu, kalo dipikir-pikir, diliat-liat, didengar-dengar, sebenernya ga
ada sesuatu yang bener-bener mustahil buat dilakukan. Dulu manusia pernah punya
mimpi untuk bisa terbang, sampai akhirnya Wright Bersaudara berhasil
menciptakan konsep pesawat terbang. Dulu manusia pernah punya mimpi untuk bisa
melihat di malam hari, di tempat gelap. Sampai akhirnya Thomas Alfa Edison
berhasil menciptakan sebuah bola lampu.
Pernah nonton film Laskar Pelangi? Atau udah baca tetraloginya? Gimana
ceritanya coba, seorang bocah dari pedalaman di daerah Bangka Belitung, yang
bahkan pulaunya sendiri malah ga tergambar di peta. Sekolahnya kumuh, lantainya
tanah, kalo malem kelasnya dijadiin kandang kambing, kalo ujan kegiatan belajar-mengajarnya
dipause dulu, udah gitu terpencil. Bahkan salah satu muridnya harus naik sepeda
dari rumahnya, tiap hari pulang-pergi kurang lebih 80 km. Sadis.
Tapi siapa yang percaya kalo salah satu lulusan dari sekolah itu nantinya
bakal bisa--bahkan minimal--ngelanjutin sekolahnya sampai SMA. Dan yang lebih
parahnya lagi, ampe kuliah di luar negeri, di Eropa, di Prancis, di Inggris!
Secara akal rasional, ga mungkin. Secara ekonomi, ga mungkin. Secara
intelektualitas, ya ampyun, sekolah juga di kandang kambing. Ngapain mikir
sampe mengenyam pendidikan di luar negeri sih?
Wets. Tapi secara akal orang optimistis, bisa. Secara akal orang beriman,
bisa. Mereka ini yang menganut prinsip "Impossible is nothing, just do
it". Mereka sadar mereka punya pegangan. Mereka sadar mereka punya
"seseorang" untuk dijadikan sandaran. Mereka sadar bahwa yang namanya
Tuhan itu emang ada. Mereka sadar bahwa pegangan itu, sandaran itu, yaitu Allah
swt., bisa melakukan apapun. Mereka sadar bahwa tanah yang mereka injak, milik
Allah, karya Allah; air yang mereka minum, milik Allah, karya Allah; oksigen
yang mereka nikmati, milik Allah, karya Allah. Dan mereka pun sadar, bahwa
bahkan diri mereka sendiri adalah milik Allahul Khaliq.
Allah bisa membuat batang pohon; Allah bisa membuat jantung, Allah yang membuat manusia dari setetes air; Allah yang mengatur bumi, bulan, matahari, planet dan bintang-bintang lainnya tetap berada dalam jalur yang telah ditentukan. Allah juga lah yang telah
menciptakan bumi, menciptakan matahari, menciptakan samudra sebegitu luas,
mendirikan langit tanpa tiang, meletuskan Gunung Merapi, mempermalukan
Indonesia di hadapan Bahrain 10-0. Itulah yang ada dalam keyakinan orang-orang
optimis yang beriman itu. Jadi, menurut mereka, Allah bikin yang sebegitu
kompleks aja bisa, masa sih ngabulin cita-cita saya doang ga bisa?
Mereka yakin bahwa:


"Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang
dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan
kamu (tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong
kamu (selain) dari Allah sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Allah saja
orang-orang mukmin bertawakkal." (QS. 'Ali Imran [3]: 160)
- Nah, saya udah menetapkan
keinginan saya. Saya sudah berdoa. Saya sudah percaya kalo Allah pasti
selalu ada untuk saya. Ngapain lagi dong sekarang?
Tugas Anda sekarang ya tinggal BERUSAHA! Usaha, kawan. Usaha, teman. Usaha, bro
Usaha (w) = F.s
"ENGGAK GITUUU, UJAAAAANG!" "maap, maap, keingetan ulangan
yang tadi.." "lah, kan gurunya ketimpuk sama ucok? ulangannya
jadi?" "iya, tapi gurunya gapapa tuh. guru ujang emang gitu orangnya;
tangguh, berani, lincah, bandel, irit, kuat di segala medan. sang pemenang
banget lah.." "....."
Oke, gajelas. Lanjut..
Hmm, tangguh, berani, lincah, irit, bandel, kuat di segala medan. Gurunya
si Ujang mungkin adalah model orang-orang yang bisa menggapai cita-citanya...
- Lah? Udahlah, kan Allah Maha
Memperkenankan Doa, yaudah berdoa aja! Hidup itu mudah....
Apaan sih...
Kalo begitu, kenapa Rasulullah Muhammad saw. dulu waktu perang macem-macem:
Perang Badar, Perang Uhud, dll. kenapa beliau
engga berdoa aja biar musuhnya langsung mati gitu. Kan doa seorang nabi
malah lebih dahsyat lagi kan?
Nah itu! Rasul gamau kaumnya jadi kaum yang malas. Yang gamau berusaha.
Yang gamau bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Rasul malah milih
buat berusaha dulu, karena Allah tidak hanya melihat hasil, tapi
juga prosesnya. Bisa aja sih Allah, misalnya, ngelulusin kita waktu UN nanti, padahal kita
ga belajar sama sekali. Tapi yang rugi pasti bakal jadi kita sendiri. Kenapa?
Karena kita belom tentu qualified. Belom tentu terseleksi,
belom tentu punya kemampuan yang dibutuhkan, tapi udah dilulusin sama Allah ke
SMA. Jadinya? Yaa, paling lempar-lemparan bangku kayak si Ujang. Panik. Syok. Gemeteran. Bingung. Jualan cakwe.
Udah ah, sekian. Capek. Haha
Sebagai penutup, saya pengen nyisipin ayat quran favorit saya. Ayat ini
selalu bisa memotivasi saya:

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa malaikat yang mencatat amalan-amalannya. Dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat Hafazhah. Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka (QS. Ar-Ra'd [13]: 11)

"'Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir'." (QS. Yusuf [12]: 87)

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa malaikat yang mencatat amalan-amalannya. Dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat Hafazhah. Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka (QS. Ar-Ra'd [13]: 11)

"'Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir'." (QS. Yusuf [12]: 87)
CAW!
Wassalamualaikum Wr. Wb.


~ 0 komentar: ~
~ Posting Komentar ~