Yes, We Can!

Sabtu, 03 Maret 2012



Assalamualaikum Wr. Wb.

Halo halo halo. Tes tes tes. Maap nih, masih baru di kancah blogging *uhuk uhuk*

"uhuk, uhuk" "minum dulu, pak.." "oh iya, makasih. gimana sekolahmu, jang?" "ya gitu deh, biasa aja, pak. cuma tadi ada ulangan mendadak gitu, jadi ujang panik terus ujang lempar gurunya pake bangku ujang" "LAAHHH?" "iya, pak. untung aja ga kena, pak" "KAMU LEMPAR BANGKU?!" "iya, pak. tapi ga kena kok, yang ngenain gurunya si ucok, dia lempar pot bunga.."



*krik krik krik*



Oke, lanjut aja deh..

Hem. Kutipan cerita di atas sangat berkaitan erat dengan topik yang bakal saya bahas kali ini.. Engga juga sih, itu cerita random ga jelas doang. Saya mau bahas tentang ini:

CITA-CITA

Engga, bukan cita-cita yang kayak iklan Cila-pengen-jadi-dokter-supaya-bisa-nyembuhin-temennya-yang-sakit. Atau Cila-pengen-nguasain-dunia-muahahaha. Atau Cila-pengen-punya-restoran-ayam bakar-di-puncak-gunung-semeru. Kita ga bahas cita-cita yang seperti itu.

Ada ungkapan yang berbunyi kayak gini: 
Impossible is nothing, just do it
  • Maksudnya?
Ya begitu, kalo dipikir-pikir, diliat-liat, didengar-dengar, sebenernya ga ada sesuatu yang bener-bener mustahil buat dilakukan. Dulu manusia pernah punya mimpi untuk bisa terbang, sampai akhirnya Wright Bersaudara berhasil menciptakan konsep pesawat terbang. Dulu manusia pernah punya mimpi untuk bisa melihat di malam hari, di tempat gelap. Sampai akhirnya Thomas Alfa Edison berhasil menciptakan sebuah bola lampu.

Pernah nonton film Laskar Pelangi? Atau udah baca tetraloginya? Gimana ceritanya coba, seorang bocah dari pedalaman di daerah Bangka Belitung, yang bahkan pulaunya sendiri malah ga tergambar di peta. Sekolahnya kumuh, lantainya tanah, kalo malem kelasnya dijadiin kandang kambing, kalo ujan kegiatan belajar-mengajarnya dipause dulu, udah gitu terpencil. Bahkan salah satu muridnya harus naik sepeda dari rumahnya, tiap hari pulang-pergi kurang lebih 80 km. Sadis.

Tapi siapa yang percaya kalo salah satu lulusan dari sekolah itu nantinya bakal bisa--bahkan minimal--ngelanjutin sekolahnya sampai SMA. Dan yang lebih parahnya lagi, ampe kuliah di luar negeri, di Eropa, di Prancis, di Inggris! Secara akal rasional, ga mungkin. Secara ekonomi, ga mungkin. Secara intelektualitas, ya ampyun, sekolah juga di kandang kambing. Ngapain mikir sampe mengenyam pendidikan di luar negeri sih? 

Wets. Tapi secara akal orang optimistis, bisa. Secara akal orang beriman, bisa. Mereka ini yang menganut prinsip "Impossible is nothing, just do it". Mereka sadar mereka punya pegangan. Mereka sadar mereka punya "seseorang" untuk dijadikan sandaran. Mereka sadar bahwa yang namanya Tuhan itu emang ada. Mereka sadar bahwa pegangan itu, sandaran itu, yaitu Allah swt., bisa melakukan apapun. Mereka sadar bahwa tanah yang mereka injak, milik Allah, karya Allah; air yang mereka minum, milik Allah, karya Allah; oksigen yang mereka nikmati, milik Allah, karya Allah. Dan mereka pun sadar, bahwa bahkan diri mereka sendiri adalah milik Allahul Khaliq.

Allah bisa membuat batang pohon; Allah bisa membuat jantung, Allah yang membuat manusia dari setetes air; Allah yang mengatur bumi, bulan, matahari, planet dan bintang-bintang lainnya tetap berada dalam jalur yang telah ditentukan. Allah juga lah yang telah menciptakan bumi, menciptakan matahari, menciptakan samudra sebegitu luas, mendirikan langit tanpa tiang, meletuskan Gunung Merapi, mempermalukan Indonesia di hadapan Bahrain 10-0. Itulah yang ada dalam keyakinan orang-orang optimis yang beriman itu. Jadi, menurut mereka, Allah bikin yang sebegitu kompleks aja bisa, masa sih ngabulin cita-cita saya doang ga bisa?

Mereka yakin bahwa:



   
"Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal." (QS. 'Ali Imran [3]: 160)


  • Nah, saya udah menetapkan keinginan saya. Saya sudah berdoa. Saya sudah percaya kalo Allah pasti selalu ada untuk saya. Ngapain lagi dong sekarang?
Tugas Anda sekarang ya tinggal BERUSAHA! Usaha, kawan. Usaha, teman. Usaha, bro

Usaha (w) = F.s 

"ENGGAK GITUUU, UJAAAAANG!" "maap, maap, keingetan ulangan yang tadi.." "lah, kan gurunya ketimpuk sama ucok? ulangannya jadi?" "iya, tapi gurunya gapapa tuh. guru ujang emang gitu orangnya; tangguh, berani, lincah, bandel, irit, kuat di segala medan. sang pemenang banget lah.." "....."


Oke, gajelas. Lanjut..


Hmm, tangguh, berani, lincah, irit, bandel, kuat di segala medan. Gurunya si Ujang mungkin adalah model orang-orang yang bisa menggapai cita-citanya...
  • Lah? Udahlah, kan Allah Maha Memperkenankan Doa, yaudah berdoa aja! Hidup itu mudah....
Apaan sih...

Kalo begitu, kenapa Rasulullah Muhammad saw. dulu waktu perang macem-macem: Perang Badar, Perang Uhud, dll. kenapa beliau engga berdoa aja biar musuhnya langsung mati gitu. Kan doa seorang nabi malah lebih dahsyat lagi kan?

Nah itu! Rasul gamau kaumnya jadi kaum yang malas. Yang gamau berusaha. Yang gamau bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Rasul malah milih buat berusaha dulu, karena Allah tidak hanya melihat hasil, tapi juga prosesnya. Bisa aja sih Allah, misalnya, ngelulusin kita waktu UN nanti, padahal kita ga belajar sama sekali. Tapi yang rugi pasti bakal jadi kita sendiri. Kenapa? Karena kita belom tentu qualified. Belom tentu terseleksi, belom tentu punya kemampuan yang dibutuhkan, tapi udah dilulusin sama Allah ke SMA. Jadinya? Yaa, paling lempar-lemparan bangku kayak si Ujang. Panik. Syok. Gemeteran. Bingung. Jualan cakwe.

Udah ah, sekian. Capek. Haha

Sebagai penutup, saya pengen nyisipin ayat quran favorit saya. Ayat ini selalu bisa memotivasi saya:




13:11




Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa malaikat yang mencatat amalan-amalannya. Dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat Hafazhah. Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka (QS. Ar-Ra'd [13]: 11)




12:87






"'Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir'." (QS. Yusuf [12]: 87)




CAW!

Wassalamualaikum Wr. Wb.





~ 0 komentar: ~

~ Posting Komentar ~